-->
Cari Berita

Breaking News

Merawat Tradisi Tuturan dan Tuntunan

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 06 Maret 2026

 


Oleh: Junaidi Jamsari


Dalam momentum Nuzulul Qur'an, kita diingatkan akan pentingnya Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Oleh karena itu, memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur'an, terutama dalam hal tashih dan tajwid, sangat penting agar kita dapat membaca Al-Qur'an dengan benar dan indah, serta dapat mengambil hikmah dan petunjuk dari ayat-ayatnya.


Saya belajar mengaji pada tahun 1970-an dengan metode baghdadiyah di mushala (Langgar Imam Bonjol, sekarang Masjid). Saya belajar dengan guru ngaji (dipanggil Unggang, artinya kakek) setiap sore atau pagi hari. Awalnya, saya mengenal huruf, belajar turutan, dan mengeja huruf-huruf Al-Qur'an sesuai kaidah yang ditentukan. Sekarang saya baru mengerti bahwa Turutan bukan sekadar belajar membaca, tapi juga merawat tradisi lisan (tuturan) dan tuntunan keagamaan khas pesantren tradisional. Turutan itu bisa juga berarti mengikuti alur jalan (nutur-ratan).


Metode ini menjadi langkah awal yang umum digunakan sebelum anak-anak membaca mushaf Al-Qur'an secara utuh, terutama populer pada era 1970-an hingga 1980-an.


Kitab Turutan, buku panduan cara mengeja huruf Hijaiah. Orang Jawa lebih mengenalnya “Turutan” daripada kitab “Baghdadiyah”. Nama buku eja huruf Arab itu, sebutan ngaji turutan sudah dikenal dalam serat Centhini dalam salah satu fragmen bercerita tentang kebiasaan orang Jawa sesudah matahari terbenam.


Dijelaskan dalam Centhini, bahwa anak-anak sehabis shalat Maghrib tidak langsung pulang ke rumah tapi tetap dilanggar (musala). Mereka ada yang langsung membaca ”Qul ya ayyuhal kafirun” dan ada pula yang mengeja “Alif Jabar a, jere u, bese i: dengan kata lain, dari pertama Islam masuk Nusantara sudah dikenal metode Turutan atau Baghdadiyah. Secara bahasa, turutan berakar kata tutur - urutan yang dilafalkan menjadi Turutan.


Guru ngaji membacakan, lalu murid menirukan (nutur/turut). "Nutur Ratan" adalah tradisi Ngaji Turutan, sebuah metode belajar membaca Al-Qur'an klasik yang populer di Indonesia, terutama di Jawa, sebelum metode Iqro berkembang pada 1990-an.


Asal-usul Tradisi Ngaji Turutan (metode mengeja) adalah metode pembelajaran Al-Qur'an tertua di Indonesia, berakar dari pendidikan pesantren dan surau di Jawa, digunakan sejak Islam menyebar di Nusantara. Turutan? Turutan berasal dari kata "turut". Kitab turutan berisi juz amma, bacaan sholat, dan huruf hijaiyah. Cara belajar, metode ini mengandalkan pengejaan bunyi huruf hijaiyah bersama-sama. Contohnya mengeja dalam belajar membaca Al Qur’an. Seperti “Alif jabar a, Alif bese i, Alif jere u: A-I-U” atau dengan menggunakan istilah letak harakatnya, “Alif atas a, Alif bawah i, Alif Dopan u: A-I-U” dan yang paling populer serta jamak ditemukan dalam tradisi belajar membaca Al-Qur’an pada masyarakat Nusantara adalah: “Alif fathah a, Alif kasroh i, Alif dhummah u: A-I-U”. 


Karakteristiknya metode mengeja (Baghdadi), santri diajarkan mengeja nama huruf, bukan langsung bunyinya. 


Karena saya belajar di daerah Sumatra Selatan – Ogan Komering Ulu Dalam tradisi masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel), saat tahap belajar membaca Al-Qur'an, menggunakan Juz Amma (Juz 30) sering disebut sebagai "Buku Turutan" atau sering disebut "Ngaji Turutan".


Sekarang, mengapa disebut Juz Amma disebut turutan? Definisi Turutan: Turutan merupakan buku panduan belajar mengaji yang biasanya berisi juz terakhir Al-Qur'an (Juz 'Amma), sering kali dilengkapi dengan dasar-dasar bacaan alif-alifan (huruf hijaiyah) dan doa-doa harian.


Tahapan belajar disebut turutan karena buku ini dipelajari setelah murid mampu mengenal huruf hijaiyah dasar dan sebelum berlanjut ke membaca Al-Qur'an 30 juz (sering disebut metode Baghdadiyyah atau eja - ngeja).


Karakteristik, buku turutan klasik seringkali berbentuk kecil/sedang, menggunakan kertas buram, dan memuat surat-surat pendek yang familiar di telinga masyarakat.


Metode, "Ngaji Turutan" adalah tradisi lama yang menekankan pada pengejaan huruf sebelum membaca ayat secara utuh, yang merupakan fondasi spiritual penting bagi generasi di wilayah tersebut. 


Meskipun saat ini sudah populer metode Iqra' atau metode lainnya, istilah "Turutan" masih melekat kuat sebagai sebutan untuk buku Juz Amma yang digunakan untuk belajar mengaji, terutama bagi generasi tua –dulu belum dikenal TPA atau di TPQ (Tempat Pendidikan Al-Qur'an) tradisional di Sumatera Selatan.


Tutur lisan dalam Al-Qur'an menekankan pentingnya menjaga ucapan agar bernilai positif, benar, dan santun, karena setiap perkataan dicatat malaikat. Prinsip utamanya meliputi berbicara yang baik (qaulan ma'ruf/hasan), jujur, tidak menyakiti, dan menghindari gibah, fitnah, serta perkataan sia-sia (lagwi).


Secara etimologi, mengeja merupakan cara melafalkan kata yang menekankan segi historis dengan mempertahankan semua unsur fonem atau bunyi. Sedangkan mengeja dari sisi terminologi adalah salah satu teknik membaca dengan melafalkan satu demi satu huruf-huruf yang menyusun satu kata. Metode mengeja berarti kaidah-kaidah cara menggambarkan fonem/bunyi kata, kalimat dan lainnya dalam bentuk tulisan atau huruf-huruf serta penggunaan tanda-tanda baca.


Belum ada informasi valid terkait siapa atau kapan tahun penyusunannya, beberapa artikel terkait metode Baghdadiyah disebutkan bahwa buku ini telah ada pada masa Kekhalifahan Islam Bani Abasiyah.


Baghdadiyah atau Turutan merupakan buku panduan belajar membaca Al-Qur’an yang diawali dengan pengenalan huruf-huruf hijaiyah, ada 30 jenis huruf di dalamnya dengan menyertakan huruf Alif dan Lam Alif  tanpa tanda baca atau harokat. Kemudian buku ini memperkenalkan tanda baca tunggal yang melekat pada setiap hurufnya, yaitu fathah-kasroh-dhummah misalnya pada huruf Alif akan bersuara a-i-u, pada huruf Ba’ berbunyi ba-bi-bu dan seterusnya. 


Bab ini juga menjelaskan tanda baca ganda atau tanwin fathah, tanwin kasroh dan tanwin dhummah yang menghasilkan bunyi huruf seperti an-in-un.


Pada bagian selanjutnya, pembaca pemula akan belajar tanda baca tasydid (suara huruf dobel) dan sukun (suara huruf mati) sekaligus akan dilatih membaca kombinasi huruf hijaiyah yang tersusun dari dua, tiga, empat, lima dan enam huruf. Bagian inilah menjadi media belajar mengenal suara huruf dan tanda baca, variasi bentuk huruf berdasarkan tata letak penulisan (tunggal, depan tengah dan belakang), serta persoalan terpenting adalah cara membaca huruf Al-Qur’an sesuai dengan makhroj atau getar bunyi berasal dari sumber keluarnya suara huruf. Seluruh tahapan tersebut dilaksanakan dengan tuntunan atau bimbingan guru/ustadz pendamping yang memberi contoh bunyi huruf, kemudian ditirukan oleh santri/siswa dan diulang hingga suaranya sesuai dengan yang dicontohkan.


Pada masa sekarang, sudah jarang dan langka metode mengeja ala Baghdadiyah digunakan, sebab kesan sulitnya keharusan menyamakan suara bunyi huruf dan lamanya waktu yang ditempuh. Belajar membaca Al-Qur’an dengan metode turutan menuntut kuatnya hafalan dan keahlian menirukan bunyi huruf, yang bukan perkara mudah bagi masyarakat untuk menyesuaikan lidah dan logat orang Arab. 


Inti dari metode mengeja adalah melatih kesesuaian bunyi huruf dengan mengulang-ulang sampai terbiasa, tentunya durasi lama belajar akan tergantung pada kemampuan masing-masing pembaca pemula yang berbeda-beda.


Di samping itu, dalam tradisi belajar mengajar para ulama salaf mengharuskan adanya proses talaqqi atau bertatap muka secara langsung, bahwa ilmu harus disampaikan oleh guru dan diterima oleh murid. Sebagaimana syair Imam Syafi’i, “al ‘ilmu ma kana fihi qola hadatsana – wa ma siwa dzaka waswasusy syayatini”.  Ilmu adalah apapun yang dikatakan “telah diceritakan kepada kami”, dan selain itu merupakan bisikan hasutan para setan (Thabaqatusy Syafi’iyyah, jilid I, hal. 297).


Metode Baghdadiyah atau turutan adalah satu buku panduan yang tidak hanya sarana belajar membaca Al-Qur'an, namun juga proses transfer knowledge antara guru-murid, baik secara harfiyah maupun komunikasi psikologis pada segi hakikiyah. Hal ini berbeda dengan berbagai metode belajar membaca Al-Qur'an yang saat ini populer di masyarakat, yang lebih lengkap penyusunan materinya, lebih praktis cara pembelajarannya, dan relatif lebih cepat waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasilnya.


Maka menggunakannya adalah salah satu ikhtiar praktis merawat tradisi dan tuntunan para salafunash sholih, yaitu ulama Nusantara. *Penulis tinggal di Lampung Barat.

LIPSUS