![]() |
| Pesta Sekura |
Oleh: Junaidi Jamsari
_______________________
Dalam konteks Pesta Sekura, hak-hak perempuan yang perlu dihormati antara lain: Hak atas martabat, Perempuan berhak dihormati dan diperlakukan dengan martabat. Hak untuk tidak dieksploitasi, Perempuan berhak tidak dieksploitasi atau digunakan sebagai objek dalam acara. Hak atas keamanan, Perempuan berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan pelecehan. Hak untuk berpartisipasi, Perempuan berhak berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan Pesta Sekura. Hak untuk dihormati, Perempuan berhak dihormati dan diperlakukan dengan martabat dalam Pesta Sekura.
Fakih Ragaman, Berchah Pitoewas, Devi Sutrisno Putri, (Implementasi Pesta Sekura dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa), Titik temu dari penelitian Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila pada Pesta Sekura" oleh Fakih Ragaman dari Unila adalah untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam konteks Pesta Sekura, sebuah tradisi budaya di Lampung Barat. Bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Pancasila, seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, dalam kegiatan Pesta Sekura. Penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diaplikasikan dalam konteks budaya lokal, serta bagaimana Pesta Sekura dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila di masyarakat.
Tapi, Pesta Sekura, sebuah tradisi budaya di Lampung Barat, kembali menjadi sorotan karena penggunaan pakaian yang dianggap mengeksploitasi perempuan. Apakah tradisi ini dapat sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan?
Bukankah Pesta Sekura seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat, bukan alat eksploitasi perempuan. Penggunaan pakaian yang tidak sopan dan menghina martabat perempuan jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Kaum perempuan dan ibu harus bersuara dan menuntut keadilan hak-hak mereka.
Budaya Sekura di Lampung Barat diperkirakan telah ada sejak sebelum masuknya pengaruh Islam di wilayah tersebut, namun ada perbedaan penafsiran di kalangan peneliti dan informan lokal mengenai waktu munculnya tradisi ini. Penggunaan topeng dalam budaya Sekura sudah dikenal sejak abad ke-9 Masehi, seperti tercatat dalam prasasti Wahara Kuti (840 M), Prasasti Bebetin (896 M), dan Prasasti Gurun Paim
Tradisi Sekura awalnya merupakan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan dewa-dewa, namun kini telah berkembang menjadi perayaan Idul Fitri yang meriah dan penuh kegembiraan. Sekura juga digunakan sebagai sarana untuk menakut-nakuti penjajah pada zaman kolonial.
Perkembangan Sekura:
- Abad ke-20: Sekura mengalami revitalisasi dan transformasi menjadi tarian topeng yang dipentaskan di festival budaya.
- 1991: Sekura resmi dijadikan sebagai kesenian daerah Lampung Barat.
- 2014 dan 2016: Pemerintah mengadakan Sekura 1000 wajah dan berhasil memecahkan rekor MURI, meningkatkan popularitas Sekura.
Sekura memiliki dua jenis, yaitu Sekura Kamak (penampilan kotor dan unik) dan Sekura Betik (penampilan rapi dan bersih). Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Syawal dan menjadi wadah bagi masyarakat untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan.
Budaya Sekura di Lampung Barat memang memiliki keunikan tersendiri, dengan ciri khas memakai topeng dan baju compang-camping (Sakura kecah dan Sakura kamak).
Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga telah menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya Sekura dengan menyediakan bantuan untuk kegiatan ini.
Namun, saat ini ada kekhawatiran bahwa kegiatan ini menjadi momok tersendiri, padahal sebenarnya bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan menarik masyarakat perantauan kembali ke kampung halaman.
Penelitian menunjukkan tentang pola komunikasi pelestarian budaya Sekura bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara melestarikan budaya daerah ini. Budaya Sekura memiliki makna sosial yang kuat, yaitu mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat gotong royong. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melestarikan budaya ini dan membuatnya tetap relevan dengan zaman modern.
Budaya Sekura adalah tradisi unik dari Lampung Barat yang memiliki makna mendalam. Kita dapat mengeksplore dari berbagai buku: Pola Komunikasi Untuk Membudayakan Sekua oleh Erwansah, Y. (2022) - Tradisi Sekura Cakak Buah Masyarakat Adat Saibatin Lampung Barat oleh Purnama Aryxa (2021) - selain itu, kita juga bisa mencari buku-buku tentang antropologi, kebudayaan, dan sejarah Lampung Barat untuk memperluas pengetahuan kita tentang budaya Sekura.
Awal mula penggunaan baju daster perempuan dalam kegiatan Sekura di Lampung Barat memiliki sejarah yang unik. Menurut beberapa sumber, penggunaan baju daster perempuan dalam Sekura awalnya merupakan bagian dari ritual adat untuk menghormati leluhur dan meminta kesuburan.
Dalam ritual tersebut, pria berpakaian daster perempuan sebagai simbol kesuburan dan kekuatan perempuan. Namun, seiring waktu, makna asli ini telah bergeser dan disalahgunakan untuk tujuan lain, seperti eksploitasi perempuan.
Penting untuk memahami sejarah dan konteks asli dari kegiatan tersebut untuk dapat melestarikannya dengan cara yang tepat dan menghormati hak-hak perempuan.
Sekura di Lampung Barat memang menarik untuk dikritisi. Sekura awalnya merupakan tradisi budaya untuk memeriahkan bulan Syawal dengan makna filosofis yang mendalam. Namun, saat ini banyak disalahgunakan untuk mengeksploitasi perempuan, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama.
Beberapa kritik yang bisa disampaikan:
1. Penyimpangan makna: Sekura yang awalnya memiliki makna filosofis dan budaya, kini lebih banyak digunakan untuk tujuan yang tidak sesuai.
2. Eksploitasi perempuan: Penggunaan perempuan sebagai objek dalam Sekura jelas-jelas merupakan bentuk eksploitasi dan tidak menghormati hak-hak perempuan.
3. Kehilangan identitas budaya: Penyalahgunaan Sekura dapat menyebabkan kehilangan identitas budaya dan makna asli dari tradisi tersebut.
Meluruskan makna Sekura:
1. Revitalisasi makna: Kembalikan makna asli Sekura sebagai tradisi budaya yang mempromosikan nilai-nilai positif dan kesyukuran.
2. Pengawasan dan regulasi: Pemerintah dan masyarakat perlu mengawasi dan mengatur pelaksanaan Sekura untuk mencegah penyalahgunaan.
3. Pendidikan dan kesadaran: Tingkatkan kesadaran masyarakat tentang makna asli Sekura dan dampak negatif dari penyalahgunaannya.
4. Alternatif kegiatan: Tawarkan alternatif kegiatan yang lebih positif dan inklusif untuk memeriahkan bulan Syawal.
Mungkinkah? melestarikan budaya dan tradisi Sekura tanpa menyalahgunakan nilai-nilai yang ada, untuk memeriahkan bulan Syawal tanpa menyalahgunakan Sekura:
1. Festival Kuliner: Adakan festival kuliner yang menampilkan makanan khas Lampung Barat, dengan tema Syawal yang Lezat.
2. Pameran Budaya: Lakukan pameran budaya yang menampilkan kesenian dan kerajinan tangan khas Lampung Barat.
3. Kompetisi Olahraga: Adakan kompetisi olahraga yang melibatkan masyarakat, seperti sepak bola, voli, atau lari.
4. Pengobatan Gratis: Sediakan layanan pengobatan gratis untuk masyarakat, dengan tema Syawal Sehat.
5. Kegiatan Sosial: Lakukan kegiatan sosial, seperti bakti sosial, donor darah, atau pengumpulan sumbangan untuk masyarakat kurang mampu.
Menjaga identitas Sekura, sering terjadi, di mana ajakan himbauan dari masyarakat tidak seharusnya menjadi glorifikasi terhadap seseorang, tapi harus menjadi perayaan budaya yang menghormati nilai-nilai positif. Untuk menyikapinya hal tersebut maka:
1. Fokus pada tujuan: Pastikan tujuan kegiatan Sekura tetap jelas dan fokus pada memeriahkan bulan Syawal dan melestarikan budaya.
2. Hindari promosi diri: Tokoh masyarakat sebaiknya menghindari promosi diri dan lebih fokus pada tujuan kegiatan.
3. Gunakan bahasa yang tepat: Gunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung unsur promosi diri dalam ajakan himbauan.
4. Kontrol media sosial: Pastikan media sosial yang digunakan untuk mempromosikan kegiatan Sekura diawasi dan diatur dengan baik.
Dengan demikian, identitas kegiatan Sekura dapat tetap terjaga dan tujuan kegiatan dapat tercapai.
Pendekatan yang tepat untuk melaksanakan Pesta Sekura adalah dengan menekankan nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong.
Masyarakat dapat melaksanakan Pesta Sekura dengan cara:
1. Mengutamakan nilai-nilai Pancasila: Mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kegiatan, seperti toleransi, persatuan, dan keadilan.
2. Menghormati tradisi: Melestarikan tradisi dan budaya lokal, namun juga memastikan bahwa kegiatan tidak melanggar hak-hak asosiatif dan kesetaraan gender.
3. Mengikutsertakan masyarakat: Melibatkan masyarakat luas dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, sehingga semua pihak merasa memiliki dan bertanggung jawab.
4. Mengedepankan kesederhanaan: Menghindari kemewahan dan pemborosan, serta fokus pada nilai-nilai spiritual dan sosial.
Dengan demikian, Pesta Sekura dapat menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat, serta meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai Pancasila.
Kaum perempuan dan ibu seharusnya tidak membiarkan pakaian yang digunakan dalam Pesta Sekura menjadi alat eksploitasi. Untuk menghadapi keresahan ini, mereka bisa:
1. Bersuara: Menyampaikan protes dan keresahan mereka secara terbuka dan damai.
2. Mengorganisir: Mengorganisir diskusi dan pertemuan untuk membahas isu ini dan mencari solusi bersama.
3. Mencari alternatif: Mengusulkan alternatif pakaian yang lebih sopan dan menghormati hak-hak perempuan.
4. Mendukung gerakan: Mendukung gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Suara ibu dan tuntutan keadilan kaum perempuan dalam konteks Pesta Sekura berisikan hal-hal penting seperti:
1. Penghentian eksploitasi: Menghentikan penggunaan pakaian yang mengeksploitasi dan menghina martabat perempuan.
2. Kesetaraan gender: Menuntut kesetaraan gender dan hak-hak yang sama dalam Pesta Sekura.
3. Penghormatan martabat: Menghormati martabat dan hak-hak perempuan sebagai manusia.
4. Tradisi yang positif: Mengubah tradisi Pesta Sekura menjadi lebih positif dan menghormati hak-hak perempuan.
5. Partisipasi aktif: Menuntut partisipasi aktif perempuan dalam perencanaan dan pelaksanaan Pesta Sekura.
Dengan demikian, suara ibu dan tuntutan keadilan kaum perempuan bertujuan untuk menciptakan Pesta Sekura yang lebih adil, setara, dan menghormati hak-hak perempuan.
Dengan bersuara dan bertindak, kaum perempuan dan ibu dapat menjadi agen perubahan untuk menciptakan Pesta Sekura yang lebih adil dan menghormati hak-hak perempuan.
Walhasil bertabiatlah sesuai kodratnya laki-laki ya laki-laki, perempuan ya perempuan. Jangan ada keinginan untuk bertabiat laki-laki berdandan seperti perempuan.
Kesimpulan, Pesta Sekura harus menjadi tradisi yang menghormati hak-hak perempuan dan nilai-nilai Pancasila. Mari kita jadikan tradisi ini sebagai sarana untuk memperkuat kesetaraan dan keadilan, bukan alat eksploitasi. Wallahu A’lam Bishowab.
*Penulis: Tinggal di Lampung Barat.


