INILAMPUNGCOM -- Maluku menyimpan jejak sejarah sebagai salah satu pusat gravitasi ekonomi dunia melalui komoditas rempah-rempah. Selama lebih dari dua milenium, wilayah ini menjadi magnet bagi bangsa-bangsa besar—mulai dari pedagang Arab, Portugis, Spanyol, hingga Belanda—yang mempertaruhkan segalanya demi segenggam rempah. Namun, terselip ironi panjang: meski Maluku telah lama kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, hangatnya kemakmuran rempah seolah belum sepenuhnya dirasakan petani lokal.
Di titik itulah PTPN I (Persero) hadir membawa agenda besar melalui program hilirisasi di Awaya. Negara kini tidak sekadar berniaga, tetapi berupaya menjemput kembali kedaulatan ekonomi yang lama tercecer dalam sejarah kolonialisme.
Jika menengok ke belakang, posisi strategis Maluku bukanlah narasi baru. Jauh sebelum kolonialisme Eropa mencengkeram, masyarakat Banda telah menjalin perdagangan global, membawa kekayaan alamnya hingga ke daratan Tiongkok sejak era Kekaisaran Romawi. Kehadiran pedagang Arab pada akhir abad ke-14 turut memperkuat tatanan lokal melalui sistem kesultanan agar lebih efektif berhubungan dengan dunia luar.
Nilai ekonomi rempah kala itu begitu tinggi hingga memicu Abad Eksplorasi yang mengubah peta dunia. Kita tentu mengenal Traktat Breda 1667, catatan satir sejarah ketika Belanda rela menyerahkan Pulau Manhattan (kini New York) kepada Inggris demi menguasai Kepulauan Banda. Namun, kemasyhuran “emas hitam” itu harus dibayar mahal dengan darah dan air mata; ribuan rakyat Banda gugur demi mempertahankan tanah dan kedaulatannya.
Tragisnya, pola ekonomi mentahan—sekadar mengekspor bahan baku—seolah mewarisi residu kolonialisme hingga dekade terakhir. Nilai tambah terus mengalir ke luar negeri, sementara petani lokal berjibaku dengan fluktuasi harga di tingkat bawah.
Kini, melalui mandat hilirisasi nasional fase kedua di bawah naungan Danantara, pola usang itu mulai dibongkar. Di Maluku Tengah, PTPN I menjadikan Kebun Awaya sebagai titik nol transformasi. Industri tidak lagi dipandang semata mesin laba, melainkan instrumen untuk mengangkat martabat masyarakat lokal: dari penjual bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tinggi.
Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen utama pala dunia, dengan pertumbuhan produksi rata-rata 5,79 persen per tahun. Melalui pembangunan Pabrik Oleoresin Pala seluas 20 hektare di Kebun Awaya, PTPN I berupaya memutus rantai ketergantungan lama. Dengan kapasitas olah 2.568 ton biji pala kering menjadi ekstrak alami premium, Indonesia tidak lagi sekadar penonton di pasar specialty ingredients global, tetapi berpeluang menjadi pemain penting penentu harga.
Tak berhenti pada pala, potensi kelapa pun digarap melalui fasilitas pengolahan modern berkapasitas 300.000 butir per hari. Ini menjadi jawaban konkret bagi petani yang selama ini tertekan rendahnya harga kopra, melalui produk turunan bernilai tinggi seperti MCT, coconut flour, hingga activated carbon.
Hilirisasi ini berpotensi mengubah Maluku Tengah menjadi pusat industri perkebunan yang mandiri, sekaligus menopang ketahanan pangan nasional. Namun, PTPN I menyadari industri yang kuat harus ditopang hulu yang sehat. Karena itu, pembangunan pabrik dibarengi program replanting atau peremajaan kelapa secara bertahap, dimulai dari 500 hektare pada 2026 dan ditargetkan mencapai 6.013 hektare pada 2029.
Strategi ini memastikan kejayaan rempah Maluku tidak berhenti pada megahnya mesin industri, tetapi berkelanjutan hingga ke akar tanaman di kebun-kebun rakyat.
Untuk menjamin keberhasilan visi besar ini, diperlukan dukungan strategis yang kokoh. Kepastian regulasi dari pemerintah dan sinergi antar-kementerian menjadi fondasi utama, di samping penanganan area okupasi yang harus dilakukan secara bijak dan humanis. Ekosistem petani rakyat wajib diperkuat sebagai jantung pemasok bahan baku, agar integrasi hulu ke hilir benar-benar inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun.
Bagi negara, proyek di Awaya adalah pembuktian bahwa hilirisasi bukan sekadar jargon di atas kertas. Dengan potensi penyerapan 550 tenaga kerja lokal serta penerapan konsep zero waste, kesejahteraan sedang ditenun kembali dari tanah sendiri. Momentum groundbreaking pada akhir April 2026 bukan hanya seremoni konstruksi, melainkan pernyataan sikap bahwa Maluku bangkit mengukuhkan kembali posisinya sebagai sentra rempah dunia yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat.
Kedaulatan yang dulu dirampas dengan paksa, kini sedang direbut kembali demi kemakmuran rakyat. (**)

