-->
Cari Berita

Breaking News

Keselamatan di Tempat Wisata: Bisnis Lebih Utama (?)

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 04 April 2026


Ilustasi inilampung.com


Oleh : Junaidi Jamsari


Kejadian tragis di Wira Garden, Bandarlampung, yang menewaskan dua mahasiswi Unila, memicu pertanyaan tentang keselamatan di tempat wisata. Apakah pengelola wisata telah memprioritaskan keselamatan pengunjung atau hanya fokus pada bisnis?


Berbagai komentar bermunculan, mungkinkah musibah ini akan membuka tabir gelap dari pengelolaan wisata selama ini. Akankah masyarakat selama ini mengerti apa yang disebut wisata.


Pada hari itu, Bunga Rosana berangkat dari pondok bertemu dengan teman prodinya. Bunga stay di pondok kalau malam saja, siang hari ia memang biasa di luar pondok. Bisa jadi, posisinya memang tidak ada yang tahu kalau Bunga hari itu punya rencana wisata ke Wira Garden bersama  teman kampusnya satu prodi.


Keterangan yang didapat, keesokan harinya, 2 April 2026, jenazah Bunga ditemukan, kondisinya masih utuh di sekitar Pulau Pasaran. Oleh Tim SAR, jenazah langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk diautopsi.


Selesai autopsi, kedua jenazah -Bunga dan Fatmawati- langsung dibawa ke rumah duka masing-masing.


Di rumah Bunga, orang-orang sudah ramai menunggu, tetangga, saudara, teman SD sampai kuliahnya ada semua, ustadzah Darul Huffazz dan juga guru-guru sekolahnya juga ada.  Walikota Metro juga terlihat datang. Bahkan memberikan kata-kata ucapan dukacita setelah pelaksanaan salat jenazah sebelum dimakamkan.


Kuasa Allah, jenazah Alhamdulillah ditemukan dalam keadaan lengkap, masih utuh dan bahkan tidak terlepas sehelai pakaiannya. Subhanallah! Siapapun pasti penasaran, tetapi semua bisa menerima dan situasi bisa menjadi tenang.


Keselamatan yang Utama

Kejadian ini memang mengingatkan kita bahwa keselamatan pengunjung objek wisata harus menjadi prioritas utama, bukan hanya sekadar bisnis. Pengelolaan destinasi wisata harus sesuai dengan standar operasional yang ketat, termasuk sistem peringatan dini, evakuasi, dan pengawasan yang memadai. Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan keselamatan di tempat wisata. 


Pengelolaan pariwisata yang berorientasi pada keselamatan sangat krusial untuk mencegah korban jiwa dan menjamin keberlanjutan sektor tersebut. Pengelolaan yang baik memastikan bahwa aktivitas pariwisata, terutama di alam terbuka (seperti pantai, gunung, air terjun), tidak membahayakan nyawa wisatawan dan penduduk lokal.


Pariwisata berkelanjutan harus mengutamakan keselamatan jiwa di atas keuntungan ekonomi semata, agar tidak menimbulkan dampak negatif yang serius.


Kejadian  itu sangat menyedihkan. Dua mahasiswi Universitas Lampung (Unila), Fatmawati dan Bunga Rosana, meninggal dunia setelah terseret arus air bah di Wira Garden, Bandarlampung, pada 1 April 2026. Mereka ditemukan sehari kemudian di Pulau Pasaran setelah terseret arus deras sejauh beberapa kilometer.


Bunga Rosana asal Metro adalah santri yang menghapal Al-Qur'an 30 Juz di MA Darul Huffaz Pesawaran Lampung. Wali Halaqah, Ustadz Heri Soleh, Lc, menyatakan, motivasi Bunga ingin memberi syafaat kepada orang tercinta khususnya orang tua dan ingin menjadi orang yang dicinta Sang Robbi serta dikumpulkan bersama para Nabi, syuhada, solihin di Jannah-Nya.


Motivasinya Allah kabulkan, orang baik, sopan santun dan ramah itu Insyaa Allah syahid, ya Bunga. Setelah tamat, dia juga kembali ke DH sebagai Musyrifah. 


Musyrifah adalah pembimbing, pengasuh, atau pendamping asrama perempuan (santriwati) di pondok pesantren atau boarding school. Musyrifah berperan sebagai pengganti orang tua, teladan, dan pengawas kedisiplinan serta ibadah santriwati, sekaligus pengajar yang mendidik akhlak dan membantu kegiatan sehari-hari. Musyrifah sering disebut sebagai tulang punggung pendidikan ke-pesantren-an karena perannya yang aktif selama 24 jam dalam membentuk kepribadian mahasantri. 


Kejadian ini memicu pertanyaan tentang keselamatan di tempat wisata. Apakah pengelola telah memiliki sistem deteksi dini terhadap potensi air bah? Apakah ada peringatan kepada pengunjung saat kondisi cuaca berpotensi ekstrem?


Bagaimana dengan pemandu wisata?  Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan dan pengetahuan serta keterampilan bagi pemandu tentang wisata alam ekowisata. Untuk Wisata alam ekowisata perlu dikemas dengan baik agar para wisatawan dan pengelola destinasi dapat menciptakan wisata berkelanjutan dengan melakukan prinsip-prinsip ekowisata.


Seorang pemandu wisata harus memiliki pemahaman prinsip-prinsip ekowisata dan nilai-nilai budaya yang luhur dalam mengembangkan suatu destinasi yang berbasis ekowisata.


Pemandu wisata yang telah bersertifikasi tentu telah memiliki pengetahuan, motivasi, dan kompetensi para pemandu wisata dan memenuhi standar, kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Kepemanduan.


Berharap Investigasi

Berharap investigasi dapat dilakukan, desakan untuk menutup sementara kegiatan pengelolaan wisata Wira Garden terus bergulir bisa segera ditindaklanjuti. Investigasi harus dilakukan secara transparan, guna menentukan pihak yang bertanggungjawab atas kejadian ini.


Kita melihat kondisi di lapangan untuk memastikan apakah standar keselamatan tersedia dan wajib diketahui bagi seluruh destinasi wisata alam tersedia dan keadaan baik.


Apakah ketersediaan informasi untuk meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat tentang tanda-tanda alam sebelum terjadi banjir bandang tersampaikan oleh petugas.


Apakah petugas yang bekerja memiliki ketrampilan dan pengetahuan melalui pelatihan yang merupakan kewajiban bagi setiap petugas.


Apakah Sapta Pesona slogan semata? Sapta Pesona telah mengamanatkan bahwa pengelola wisata harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua pengelola wisata dapat memenuhi standar tersebut. 


Oleh karena itu, penting bagi pengelola wisata untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan, serta bagi pemerintah untuk melakukan pengawasan yang ketat untuk memastikan bahwa standar keselamatan dan kenyamanan pengunjung terpenuhi.


Setiap kita mendengar kejadian seperti ini, menjadi dilema bagi pemerintah. Pemerintah mungkin memiliki pertimbangan yang kompleks dalam mengambil keputusan penutupan sementara kegiatan wisata, dengan alasan seperti: Dampak ekonomi pada masyarakat sekitar yang bergantung pada pariwisata, potensi kerugian bagi pelaku usaha pariwisata, kekhawatiran akan kehilangan kepercayaan wisatawan, sehingga keputusannya menunggu hasil – dan menunggu hasil, (jawabannya sudah bisa didapatkan perlunya proses evaluasi dan perbaikan yang efektif kedepan).


Jawaban normatif, bahwa keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Penutupan sementara dapat menjadi langkah preventif untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pengunjung.


Kejadian ini memang mengingatkan kita bahwa keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama, bukan hanya sekadar bisnis. Pengelolaan destinasi wisata harus sesuai dengan standar operasional yang ketat, termasuk sistem peringatan dini, evakuasi, dan pengawasan yang memadai. Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan keselamatan di tempat wisata. 


Kita berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan keselamatan di tempat wisata.Tempat wisata seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, bukan malapetaka. Namun, kejadian di Wira Garden menunjukkan bahwa keselamatan pengunjung masih menjadi isu yang perlu diperhatikan.


Pengelola wisata memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan pengunjung. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua pengelola wisata dapat memenuhi standar keselamatan. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengatur keselamatan di tempat wisata.


Akhirnya tak henti-hentinya kita berharap dengan kejadian itu, semua untuk meningkatkan keselamatan di tempat wisata, pengelola wisata harus memprioritaskan keselamatan pengunjung, pemerintah harus melakukan pengawasan yang ketat, dan masyarakat harus lebih aware akan keselamatan saat berwisata. Dengan demikian, kita dapat menciptakan tempat wisata yang aman dan nyaman bagi semua.


 * Junaidi Jamsari pegiat pariwisata tinggal di Lampung Barat.

*Alumnus UIN Raden Intan

LIPSUS