![]() |
| Ilustrasi: Berdoa |
Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis Tinggal di Lampung Barat
Pembaca yang dirahmati Allah, Hari Jum'at adalah hari yang penuh berkah, momentum terbaik bagi kita untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk urusan duniawi. Saatnya kita menundukkan hati, merefleksikan diri, dan mengambil hikmah mendalam dari lembaran-lembaran sejarah masa lalu yang diabadikan dalam Al-Qur'an.
Salah satu kisah yang penuh dengan pelajaran hidup (ibrah) tertulis dalam Surat Al-Anfal ayat 32. Ayat ini merekam sebuah peristiwa yang sekilas terasa ganjil di akal sehat kita, yaitu ketika kaum Quraisy justru berdoa meminta dijatuhi azab berupa hujan batu dari langit.
Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, dan hikmah teduh apa yang bisa kita bawa pulang untuk kehidupan kita hari ini?
Ketika Gengsi Menutup Pintu Hidayah
Dalam ayat tersebut, Allah SWT merekam ucapan tokoh-tokoh Quraisy: “Dan (ingatlah), ketika mereka berkata, ‘Ya Allah (Allahumma), jika (Al-Qur'an) ini benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.’” (QS. Al-Anfal: 32)
Secara logika, jika seseorang ragu terhadap suatu kebenaran, doa yang normal adalah: "Ya Allah, jika ini benar, tunjukilah dan bimbinglah hati kami agar bisa menerimanya." Namun mengapa kaum Quraisy justru meminta dihancurkan?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ini adalah puncak dari kesombongan, fanatisme golongan, dan gengsi yang teramat besar. Hati mereka sebenarnya tahu dan bergetar saat mendengar keindahan Al-Qur'an. Namun, ego mereka menolak untuk tunduk kepada dakwah Nabi Muhammad SAW. Mereka lebih memilih mati tertimpa batu daripada harus mengakui kebenaran di hadapan orang yang selama ini mereka musuhi.
Dua Benteng Pelindung dari Azab Allah
Meskipun kaum Quraisy menantang Allah dengan kalimat yang sangat angkuh, Allah tidak langsung menurunkan hujan batu saat itu juga. Mengapa? Jawabannya ada pada ayat berikutnya, yang menjadi salah satu ayat paling teduh dan penuh kasih sayang dalam Al-Qur'an: “Dan Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan (beristighfar).” (QS. Al-Anfal: 33)
Dari ayat ini kita diajarkan bahwa ada dua benteng kokoh yang menahan murka Allah di atas bumi:
1. Keberadaan Rasulullah SAW: Allah sangat menghormati dan mencintai Nabi Muhammad SAW, sehingga Dia tidak akan membinasakan suatu kaum selama kekasih-Nya berada di tengah-tengah mereka.
2. Istighfar (Memohon Ampunan): Ketika Rasulullah SAW telah wafat dan tiada lagi di sisi kita, maka benteng perlindungan yang tersisa bagi umat manusia adalah untaian istighfar yang konsisten kita ucapkan setiap hari.
Hikmah untuk Jiwa Kita Hari Ini
Kisah di atas bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin bagi kehidupan kita sekarang. Ada beberapa pesan teduh yang bisa kita renungkan pada hari Jum'at yang mulia ini:
1. Berhati-hatilah dalam Berdoa dan Berucap.
Kaum Quraisy menggunakan kata yang suci (Allahumma), namun isi doanya mendatangkan kebinasaan karena disetir oleh amarah dan gengsi. Saat kita menghadapi ujian hidup, kekecewaan, atau kegagalan, jagalah lisan kita.
Jangan sampai ego membuat kita mengucapkan kalimat yang merugikan diri sendiri atau keluarga. Mintalah selalu petunjuk (hidayah) dan kelapangan hati.
2. Bahaya gengsi dalam menerima kebenaran.
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari—baik dalam rumah tangga, lingkungan kerja, maupun kehidupan sosial—kita sulit menerima nasihat baik hanya karena merasa lebih tua, lebih senior, atau lebih berkuasaan. Belajarlah untuk menurunkan ego. Kebenaran harus tetap diterima dari mana pun jalannya datang.
3. Basahi lidah dengan istighfar.
Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Jika bukan karena kasih sayang Allah yang menutupi aib-aib kita, dan jika bukan karena istighfar yang kita ucapkan, mungkin kita sudah menuai dampak buruk dari kelalaian kita sendiri.
Mari kita jadikan hari Jum'at ini untuk memperbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kerinduan kita kepada sang "Benteng Pertama", sekaligus memperbanyak istighfar sebagai wujud pertahanan kita yang kedua. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita untuk selalu menerima kebenaran dan menjauhkan kita dari sifat sombong. Amin Ya Rabbal 'Alamin. (***)

