-->
Cari Berita

Breaking News

Bahaya Budaya Penjilat: Ketika Pujian Membunuh Pemimpin

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 02 Oktober 2026




Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat


Rasulullah SAW bersabda: "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (Sayyidul qaumi khadimuhum).


Kalimat ini harus menjadi cermin bagi kita semua. Kepemimpinan dalam Islam bukan singgasana untuk berkuasa, bukan alat untuk mengeksploitasi umat demi keuntungan diri dan golongan. Kepemimpinan adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijunjung tinggi kesuciannya, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat.


Demikian tingginya kedudukan seorang pemimpin, hingga Rasulullah SAW menempatkannya sebagai tiang tegaknya kehidupan, sebagaimana sabda beliau: "Dua golongan dari umatku, jika keduanya baik, maka baiklah seluruh manusia. Dan jika keduanya rusak, maka rusaklah seluruh manusia. Dua golongan itu adalah Ulama dan Umara." (HR. Ibnul Abdil Barr).


Jika ulama dan umara baik, negara baik. Jika keduanya rusak karena dikelilingi kebohongan, maka rusaklah kita semua.


Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan merdeka, mulia, dan dibekali akal sehat untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Kehormatan tertinggi seorang mukmin adalah ketika dahinya bersujud di atas sajadah, sebagai bukti bahwa ia hanya menghamba kepada Allah, bukan kepada manusia.


Namun, dalam realitas kehidupan, ada penyakit mental yang pelan-pelan meruntuhkan harga diri manusia hingga ke titik terendah. Penyakit itu bernama: budaya menjilat dan mengkultuskan pemimpin secara buta.


Demi mengejar kedudukan, demi mengamankan posisi, atau demi materi yang sesaat, sebagian orang rela membuang objektivitasnya. Mereka memelihara prinsip ABS: Asal Bapak Senang. Yang salah dibenarkan, yang bengkok diluruskan secara paksa, dan kritik yang membangun sengaja dibungkam.


Padahal, penjilat bukan sedang memuliakan pimpinan. Ia sedang membunuh pimpinan itu sendiri.


Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat membenci budaya kepalsuan ini. Beliau tahu betul bahwa menjilat bukan saja merusak harga diri si penjilat, tetapi juga menjadi racun yang mematikan bagi sang pemimpin.


Dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW memberikan perintah yang sangat tegas: "Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji secara berlebihan (penjilat), maka taburkanlah debu ke wajah mereka." (HR. Muslim)


Mengapa diperintahkan menaburkan debu? Para ulama menjelaskan, ini adalah simbol bahwa perilaku menjilat adalah tindakan yang kotor, hina, dan rendah. Harus segera dihentikan sebelum menjadi budaya yang menular dalam sebuah sistem.


Ketika seorang pemimpin dikelilingi oleh para penjilat yang selalu memujinya secara buta, pemimpin tersebut akan mengalami kebutaan moral. Ia akan merasa selalu benar, kebal dari kesalahan, dan sombong. Tidak ada lagi yang berani meluruskan.


Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, ketika seseorang memuji sahabatnya secara berlebihan di depan Rasulullah, beliau bersabda dengan keras: "Celaka kamu! Kamu telah memotong leher sahabatmu!"


Memuji pimpinan secara berlebihan demi pamrih sama saja dengan memotong leher dan membunuh karakter serta masa depan pemimpin tersebut.


Bencana terbesar dari fanatisme buta adalah ketika seorang pengikut rela membenarkan kebohongan dan kezaliman pimpinannya demi menyelamatkan kepentingannya sendiri.


Terkait hal ini, ancaman Rasulullah SAW sangat mengerikan dan harus kita renungkan: "Akan ada setelahku para pemimpin. Barangsiapa yang mendatangi mereka, lalu membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya, serta ia tidak akan mendatangi telagaku (di hari kiamat)." (HR. At-Tirmidzi, Hasan Sahih)


Bayangkan, dipecat dari lingkaran kerja di dunia mungkin terasa berat. Dimutasi, dinonjobkan, mungkin menyakitkan. Namun, dipecat dari golongan Rasulullah SAW di hari kiamat, tidak diakui sebagai umat beliau dan tidak bisa meminum air telaga beliau, adalah sebuah kerugian dan kesengsaraan yang abadi.


Oleh karena itu, mari kita jaga harga diri kita sebagai manusia merdeka.


Hormatilah pemimpin kita dengan cara yang benar. Loyalitas yang benar bukanlah menjilat, tetapi bersikap profesional dalam tugas, loyal pada kebenaran, dan tetap berani mengingatkan dengan cara yang santun dan ma'ruf apabila ada kekeliruan.


Pemimpin yang berintegritas tidak butuh penjilat; mereka butuh sahabat yang jujur, yang bersedia meluruskan langkah mereka demi kemaslahatan bersama. Dan bawahan yang bermartabat tidak butuh mengemis pujian, ia hanya butuh menghamba kepada Allah.


Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari sifat munafik dan menjilat, serta menyelamatkan para pemimpin kita dari racun pujian yang mematikan, dan menyelamatkan kita semua dari fanatisme buta yang bisa mendatangkan bencana bagi dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal Alamin. (**)

LIPSUS