-->
Cari Berita

Breaking News

Di Balik Perilaku Manusia pada Masyarakat Modern Perspektif Psikologi Terapan

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Selasa, 20 Oktober 2026



Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA /Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

 

Masyarakat modern menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks, mulai dari konflik dalam keluarga, tekanan pekerjaan, perundungan di lingkungan pendidikan, hingga kekerasan yang dipicu oleh persoalan sederhana. Di balik setiap perilaku manusia, terdapat proses psikologis yang melibatkan pikiran, emosi, pengalaman, lingkungan sosial, dan cara seseorang memaknai suatu peristiwa. Oleh karena itu, memahami perilaku manusia tidak cukup hanya dengan menilai apa yang tampak di permukaan. 


Pemberitaan mengenai dugaan pemukulan terhadap kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Lamongan, Jawa Timur, yang dipicu persoalan teguran kedisiplinan siswa, sebagaimana diberitakan pada 19 Oktober 2026, dapat menjadi bahan refleksi tentang pentingnya pengendalian diri dan penyelesaian konflik secara sehat. Fakta hukum dalam kasus tersebut tetap perlu ditangani melalui proses yang berlaku. Namun, dari sudut pandang psikologi terapan, peristiwa itu mengingatkan kita bahwa perbedaan pendapat dan perasaan tersinggung seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.

 

Psikologi terapan merupakan bidang yang menggunakan prinsip dan temuan ilmiah psikologi untuk memahami serta menyelesaikan persoalan nyata dalam kehidupan. Kehadirannya penting agar masyarakat tidak hanya mampu mengenali masalah, tetapi juga mengembangkan cara berpikir dan bertindak yang lebih sehat, rasional, dan bertanggung jawab.

 

Peran Pikiran, Emosi, dan Lingkungan


Perilaku manusia tidak muncul dalam ruang kosong. Seseorang dapat memberikan respons berbeda terhadap situasi yang sama karena perbedaan pengalaman hidup, pola pikir, kondisi emosional, dan lingkungan sosial. Teguran, misalnya, dapat dipahami sebagai masukan yang membangun oleh seseorang, tetapi dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri oleh orang lain. 


Dalam teori belajar sosial, Albert Bandura (1977) menjelaskan bahwa manusia mempelajari perilaku melalui pengamatan, pengalaman, dan interaksi dengan lingkungannya. Teori ini membantu menjelaskan mengapa pola komunikasi dalam keluarga dan masyarakat berpengaruh terhadap cara seseorang menyelesaikan konflik. Jika kekerasan terus-menerus diperlihatkan sebagai cara menyelesaikan masalah, perilaku tersebut berisiko ditiru atau dianggap wajar. Sebaliknya, keteladanan dalam berdialog, menghormati orang lain, dan mengendalikan diri dapat membentuk kebiasaan yang lebih konstruktif.

 

Kajian psikologi juga menempatkan pengelolaan emosi sebagai kemampuan penting. James J. Gross (1998), melalui teori regulasi emosi, menjelaskan bahwa individu dapat memengaruhi bagaimana emosi muncul, dialami, dan diekspresikan. Artinya, marah merupakan pengalaman emosional yang manusiawi, tetapi tindakan yang dilakukan ketika marah tetap memerlukan pertimbangan dan tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut dapat dilatih dengan mengenali pemicu emosi, memberi jeda sebelum merespons, memeriksa fakta, dan memilih kata-kata yang tidak melukai orang lain. Ketika terjadi perbedaan pendapat, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri yaitu apakah saya sedang berusaha menyelesaikan masalah atau sekadar melampiaskan kemarahan?

 

Perspektif ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 134, yang memuji orang-orang bertakwa karena mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Rasulullah SAW juga bersabda, “Jangan marah.” (HR. Bukhari, no. 6116). Pesan tersebut tidak berarti seseorang harus memendam semua perasaan atau membiarkan ketidakadilan. Sebaliknya, manusia perlu mengekspresikan keberatan secara tepat, menyampaikan kritik dengan santun, dan mengambil tindakan yang proporsional. 


Dengan demikian, psikologi terapan membantu masyarakat memahami bahwa kedewasaan bukan terletak pada kemampuan menguasai orang lain, melainkan pada kemampuan mengelola diri sendiri.

 

Psikologi Terapan Jalan Membangun Masyarakat Sehat


Pentingnya psikologi terapan semakin nyata ketika masyarakat berhadapan dengan tekanan kehidupan modern. Persaingan ekonomi, tuntutan pekerjaan, perubahan teknologi, dan derasnya arus informasi dapat meningkatkan tekanan psikologis. Tanpa kemampuan mengelola tekanan, persoalan kecil berpotensi berkembang menjadi pertengkaran, hubungan yang tidak sehat, atau tindakan impulsif. 


Penerapan psikologi dapat dimulai dari keluarga. Orang tua perlu menjadi teladan dalam menyampaikan teguran tanpa penghinaan dan menyelesaikan perselisihan tanpa kekerasan. Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari tindakan yang mereka saksikan setiap hari. Dalam lingkungan pendidikan, guru, orang tua, dan peserta didik perlu membangun komunikasi dua arah agar disiplin tidak berubah menjadi pertentangan yang merusak hubungan.

 

Di tempat kerja dan lingkungan masyarakat, prinsip psikologi terapan dapat digunakan untuk mengembangkan empati, komunikasi asertif, pengelolaan stres, dan penyelesaian konflik. Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat secara tegas tanpa merendahkan orang lain. Misalnya, daripada membalas teguran dengan ancaman, seseorang dapat meminta penjelasan, menyampaikan keberatan berdasarkan fakta, dan mencari kesepakatan yang adil. Di tengah perkembangan teknologi digital, pemahaman psikologi juga diperlukan untuk menghadapi budaya saling menghakimi di media sosial. 


Reaksi spontan terhadap informasi yang belum terverifikasi dapat memperbesar konflik dan menyebarkan prasangka. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan dampak komentar, dan menghormati martabat orang lain, termasuk ketika berbeda pandangan.

 

Nilai tersebut sejalan dengan Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6, yang mengajarkan pentingnya memeriksa berita sebelum mengambil tindakan yang dapat merugikan orang lain. Sementara itu, Surah Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan agar manusia tidak merendahkan sesamanya. Dalam hadis riwayat Bukhari, no. 10, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Prinsip ini menegaskan pentingnya keamanan, penghormatan, dan tanggung jawab dalam hubungan sosial. 


Dengan demikian, psikologi terapan tidak hanya bermanfaat bagi individu yang mengalami persoalan emosional. Bidang ini juga relevan bagi pendidik, orang tua, pemimpin, tenaga profesional, dan pembuat kebijakan. Melalui pendidikan keterampilan sosial-emosional, layanan konseling, lingkungan kerja yang sehat, serta mekanisme penyelesaian konflik yang adil, masyarakat dapat membangun budaya yang lebih peduli dan bertanggung jawab.

 

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa memahami perilaku manusia merupakan langkah penting untuk membangun masyarakat modern yang sehat secara psikologis dan sosial. Di balik kemarahan, pertengkaran, maupun tindakan impulsif, terdapat proses yang perlu dipahami secara cermat. Namun, memahami faktor psikologis bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan orang lain. Setiap individu tetap bertanggung jawab atas tindakannya. 


Psikologi terapan memberikan bekal praktis agar manusia mampu mengenali diri, mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Keluarga dapat menanamkan keteladanan, sekolah dapat membangun budaya dialog, dan masyarakat dapat menolak anggapan bahwa kekerasan merupakan jalan keluar yang dapat diterima. 


Pada akhirnya, kemajuan masyarakat tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan warganya memperlakukan sesama dengan hormat. Ilmu psikologi membantu menjelaskan perilaku manusia, sedangkan nilai-nilai agama memberikan landasan moral untuk mengarahkan perilaku menuju kebaikan. Maka, ketika menghadapi perbedaan pendapat atau teguran, kita perlu belajar berhenti sejenak, memahami persoalan, dan memilih respons yang bijaksana. 


Sebab, masyarakat yang sehat tidak dibangun oleh manusia yang tidak pernah marah, melainkan oleh manusia yang mampu mengelola kemarahan tanpa kehilangan kemanusiaannya. (**)

LIPSUS