![]() |
| Helikopter waterboombing standby di Bandara Radin Inten II. (ist/inilampung) |
INILAMPUNGCOM -- Upaya memadamkan secara total kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur dilakukan tim gabungan tiada henti.
Hari Minggu kemarin, 11 Oktober 2026, operasi helikopter waterboombing memasuki tahap ketiga dengan penambahan waktu 100 jam.
Heli waterboombing yang standby di Bandara Radin Inten II, Branti, Natar, Lampung Selatan, itu akan terus melakukan kegiatan sesuai arahan tim gabungan.
Sampai Minggu malam, dari 17 titik hotspot di kawasan TNWK masih terdapat lima titik yang perlu penanganan serius.
Selama ini diketahui, operasi pemadaman karhutla di TNWK dilakukan melalui darat dan udara, melibatkan personil TWNK, TNI, Polri, BPBD, mitra pemadam kebakaran, dan masyarakat.
Sementara pada Minggu siang, 11 Oktober 2026, sekira pukul 14.30 WIB pesawat Cessna yang digeser penugasannya dari Riau ke Provinsi Lampung mengudara dari Bandara Radin Inten II, Natar, Lampung Selatan.
"Pesawat Cessna tersebut melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) hujan melalui penyemaian awan dengan konsentrasi di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah, dimana banyak lahannya yang terbakar," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Lampung, Tezza B Negoro, Minggu malam sekira pukul 20.50 WIB melalui telepon.
Tezza yang bersama tim BPBD dan lainnya telah standby di Bandara Radin Inten II, Natar, Lampung Selatan, sejak pukul 07.00 WIB untuk melakukan pengawalan atas OMC pesawat Cessna menjelaskan, aksi modifikasi cuaca tidak sertamerta dapat dilakukan kapan saja.
Mengapa begitu? "Bukan saja karena harus menunggu rekomendasi BMKG, tetapi juga mesti mengukur dan melihat pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin dan sebagainya," urai Tezza.
Itu sebabnya, walau telah standby sejak pukul 07.00 WIB di Bandara Radin Inten II, Branti, pesawat Cessna yang bertugas menjalankan operasi modifiksi cuaca baru bisa terbang pada pukul 14.30 WIB.
"Selama dua jam OMC dilakukan untuk penyemaian awan. Dan tidak semua awan bisa disemai, apalagi yang pecah-pecah. Tidak bisa disemai dengan kapur Tohor dan NaCL-nya," imbuh Tezza.
Dalam OMC pada Minggu siang, 11 Oktober 2026, lanjut Tezza, pesawat Cessna hanya bisa melakukan satu kali operasi penyemaian awan.
Diakuinya, hingga saat ini masih banyak karhutla di kawasan TNWK, utamanya di wilayah gambut.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan pesawat Cessna yang bertugas melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) bergeser dari Riau ke Provinsi Lampung.
Menurut Tezza B Negoro, pesawat tersebut pada Sabtu petang, 10 Oktober 2026, telah mendarat di Bandara Radin Inten II, Natar, Lampung Selatan. (zal/inilampung)


