Oleh: Zeni Safila Putri - Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung
Setiap musim hujan, kita melihat hal yang sama: banjir merendam rumah, jalan berubah jadi sungai, dan warga mengungsi sambil membawa barang seadanya. Setiap musim kemarau, gantian: kabut asap, sumur kering, dan petani gagal panen. Kita sering menyebutnya "bencana alam". Padahal banyak dari bencana itu terjadi karena ulah kita sendiri, yang menumpuk dari tahun ke tahun.
Dampaknya Sudah Terasa di Sekitar Kita
Bagi sebagian orang, masalah lingkungan terdengar jauh, seperti cerita es yang mencair di kutub. Padahal dampaknya sudah dekat sekali dengan hidup kita. Di pesisir utara Jawa, daratan pelan-pelan tenggelam. Nelayan harus melaut lebih jauh karena ikan makin susah dicari. Petani bingung karena musim hujan dan kemarau tidak lagi datang sesuai perkiraan.
Indonesia punya hutan tropis, laut, dan terumbu karang yang sangat kaya. Tapi justru karena itu, kita juga paling merasakan akibatnya kalau alam rusak. Ini bukan soal masa depan yang jauh. Ini soal harga beras, air bersih, dan keselamatan keluarga kita sendiri.
Sampah: Masalah yang Kita Buat Setiap Hari
Wajah paling nyata dari masalah ini adalah sampah. Setiap hari kita memakai plastik, kemasan makanan, dan botol sekali pakai. Sampah plastik butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk hancur. Banyak yang akhirnya terbuang ke sungai, mengalir ke laut, lalu pecah menjadi serpihan kecil yang dimakan ikan. Ikan itu kemudian kita makan juga.
Tapi masalah sampah tidak bisa hanya disalahkan pada warga yang malas membuang di tempatnya. Selama kemasan sekali pakai adalah pilihan yang paling murah dan praktis, dan selama pengangkutan serta pemilahan sampah di banyak daerah belum berjalan baik, kebiasaan warga akan sulit berubah. Mengajak orang membawa tas belanja sendiri itu bagus, tapi perusahaan yang membuat kemasan juga harus ikut bertanggung jawab.
Hati-hati dengan Gaya Hidup "Hijau" yang Semu
Makin banyak orang peduli lingkungan, makin banyak pula yang menjualnya sebagai tren. Kita diajak membeli tumbler baru, tas kain edisi terbatas, atau barang berlabel "ramah lingkungan". Padahal kalau dibeli hanya karena ikut-ikutan lalu tidak terpakai, itu justru menambah sampah.
Prinsipnya sederhana: kurangi dulu, pakai ulang, baru daur ulang. Urutannya penting. Botol lama yang kita pakai bertahun-tahun jauh lebih baik untuk bumi daripada tumbler cantik yang cuma jadi pajangan.
Tidak Adil kalau Hanya Warga Biasa yang Disuruh Berhemat
Kita sering diminta mematikan lampu, menghemat air, dan naik kendaraan umum. Semua itu baik. Tapi kita juga perlu jujur: kerusakan terbesar datang dari skala besar, seperti pembukaan hutan, limbah pabrik, dan kebijakan energi. Tidak adil kalau warga biasa disuruh berhemat, sementara perusakan hutan dan pencemaran sungai dibiarkan tanpa hukuman yang tegas.
Jadi kita perlu bergerak di dua tingkat. Di tingkat pribadi, ubah kebiasaan sehari-hari. Di tingkat yang lebih besar, tuntut pemerintah dan perusahaan: lindungi hutan, kelola sampah dengan benar, beralih ke energi bersih, dan tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Suara kita sebagai pemilih, pembeli, dan warga negara punya pengaruh.
Harapan Datang dari Bawah
Meski terdengar suram, ada kabar baik. Di banyak tempat, warga menanam kembali bakau untuk melindungi pantai. Bank sampah tumbuh dan memberi tambahan penghasilan. Anak-anak muda membuka usaha dari barang daur ulang. Memang masih kecil dibanding besarnya masalah, tapi ini bukti bahwa perubahan tidak harus menunggu perintah dari atas.
Yang paling penting adalah tidak berhenti di tengah jalan. Gerakan peduli lingkungan sering ramai di awal, lalu sepi ketika perhatian orang pindah. Padahal memulihkan alam jauh lebih lama daripada merusaknya. Pohon yang kita tanam hari ini baru bisa meneduhkan bertahun-tahun lagi.
Menjaga lingkungan bukan soal terlihat peduli di mata orang lain. Ini soal kebutuhan paling dasar: udara yang sehat, air yang aman diminum, dan tanah yang bisa terus ditanami. Bumi akan tetap ada, dengan atau tanpa kita. Yang dipertaruhkan adalah apakah bumi masih layak ditinggali anak cucu kita.
Jadi pertanyaannya bukan lagi "kita peduli atau tidak?", tetapi "apa yang akan kita lakukan mulai hari ini, dan sanggupkah kita terus melakukannya?" Alam sudah memberi peringatan. Sekarang tinggal kita yang memutuskan, mau mendengarkan atau tidak.(**)

