-->
Cari Berita

Breaking News

Belajar dari Uwais Al-Qarni: Si Penghuni Langit

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 20 Februari 2026



Oleh : Junaidi Jamsari 

Uwais Al-Qarni –seorang tabi'in yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW- dikenal sangat berbakti kepada ibunya. Ia juga dikenal hidup dalam kesederhanaan yang ekstrim.

Setiap hari ia menggembala domba, dan hasil dari pekerjaannya hanya cukup untuk memberi makan ibunya yang lumpuh dan buta. Akibatnya, Uwais seringkali berpuasa karena kekurangan makanan, dan ia menjadikannya ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Uwais al-Qarni lahir 594 M dan M/37 H adalah seorang tabi'in yang hidup pada zaman Muhammad tapi tidak sempat bertemu Nabi. Berasal dari penduduk Qarn, Bareq, Asir, wilayah Arab Saudi dekat perbatasan dengan Yaman. Ia sangat rindu kepada Muhammad, tetapi lebih memilih untuk berbakti kepada ibunya yang lumpuh.

Uwais Al-Qarni terkenal di langit karena bakti luar biasa kepada ibunya yang lumpuh dan buta, ketaatannya pada Allah, keikhlasannya, serta kesalehannya yang membuat Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "Penghuni Langit", yang doanya tidak tertolak, padahal ia tidak dikenal di bumi. 

Ia rela menggendong ibunya ribuan kilometer dari Yaman ke Mekkah untuk berhaji dan melakukan tugas berat lainnya demi sang ibu, menjadikannya simbol ketaatan dan kerendahan hati.  

Tawadhu adalah rendah hati dihadapan orang lain. Rendah hati adalah berinteraksi dengan memperlakukan orang lain secara lemah lembut. Tawadhu merupakan akhlak yang baik dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:  “Setiap orang yang rendah hati pasti akan dimuliakan oleh Allah”. 

Hal ini menggambarkan bahwa orang yang memiliki sikap tawadhu atau rendah hati pasti akan dimuliakan oleh Allah.

Selain itu juga orang yang tawadhu pasti akan mendapat kasih sayang dari orang lain. Sikap tawadhu sangat dianjurkan dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT, artinya: "dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman", (Qs.As-Syu’ara: 215).

Sikap tawadhu yang ditunjukkan oleh Uwais juga dapat kita lihat saat ia bertemu dengan salah satu pejabat Kuffah. Ia memilih pergi dari hadapan pejabat tersebut agar keistimewaan yang ia miliki tidak diketahui oleh khalayak 
ramai. 

Dan benar saja, tidak ada orang lain yang mengetahui keistimewaan Uwais Al-Qarni, hingga ia wafat.  Saat Uwais wafat, barulah orang-orang -dan penduduk Yaman pada khususnya-, mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Ternyata ia adalah penduduk langit yang selama hidupnya dikenal sebagai seorang yang miskin dan tidak terlalu dipedulikan oleh orang lain.

Sikap tawadhu juga ditunjukkan Uwais Al-Qarni saat ia bertemu dengan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Mereka berdua mengetahui  keistimewaan seorang Uwais dan memohon doa dan istighfar kepada Uwais Al-Qarni. Namun, Uwais merasa tidak pantas memohonkan istighfar untuk kedua  sahabat Nabi tersebut, dan meminta agar Umar bin Khattab tidak menceritakan kepada orang lain tentang siapa dirinya serta keistimewaan yang dimilikinya.

Salah satu nilai pendidikan akhlak yang terdapat pada kisah Uwais Al-Qarni adalah berbakti kepada orang tua. Sikap berbakti kepada orang tua telah ditunjukkan oleh Uwais Al-Qarni dalam merawat ibunya yang telah tua dan lumpuh. Uwais selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan ibunya. Dia tidak pernah meninggalkan ibunya sendirian ditengah kondisi lumpuh dan buta.

Suatu saat, Uwais terlambat pulang dan ibunya bertanya kepadanya: 
Mengapa kau terlambat pulang nak?” Uwais menjawab: “Aku sedang melaksanakan ibadah kepada Allah agar dapat menikmati taman surga, kemudian datanglah seseorang yang menyampaikan kepadaku surga itu ada di bawah telapak 
kaki ibu”.

Oleh karena itu, Uwais mengetahui bahwa hak ibunya ada pada dirinya. Maka dirawatlah ibunya dengan baik.

Ada satu permintaan ibunya yang sulit untuk dikabulkan oleh Uwais Al-Qarni, yakni ibunya ingin menunaikan ibadah haji. Mendengar permintaan ibunya, Uwais pun 
termenung.

Perjalanan dari Yaman menuju Makkah sangatlah jauh dan ia tidak memiliki biaya. Uwais pun terus berfikir dan mencari jalan keluar untuk dapat mewujudkan permintaan ibunya.

Ia kemudian membeli seekor anak sapi dan membuatkan kandangnya di atas bukit. Setiap pagi ia menggendong anak sapi itu naik turun bukit. Kelakuan Uwais memang sangat aneh, sampai masyarakat Yaman mengira bahwa ia telah gila.

Semakin hari, anak sapi itu semakin besar. Maka semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan Uwais untuk menggendong anak sapi itu. Namun, karena dilakukan setiap hari, maka beratnya anak sapi itu tidak terasa lagi oleh Uwais Al-Qarni. Setelah delapan bulan berat sapi Uwais  mencapai 100 kilogram.

Saat musim haji tiba, Uwais merasa otot-ototnya sudah kuat dan siap mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang ibu dari Yaman ke Mekkah, sekitar 1.276 kilometer, untuk menunaikan ibadah haji.

Ribuan kilometer ditempuh, demi cinta dan baktinya. Ibunya digendong, ridha Allah dikejar. Ribuan kilometer tak terasa, bukan hajinya, tapi baktinya.

Kisah Uwais Al-Qarni: Berbakti pada orang tua, jalan menuju ridha Allah. Bukan harta, tapi perhatian dan kasih sayang yang berarti. Wallahu a'lam bisshawab.

 *Penulis alumnus UIN Raden. Intan, berdomisili di Lampung Barat.

LIPSUS